10 Tips Traveling Hemat ke Luar Negeri yang Selalu Aku Terapkan

Dulu aku juga berpikir kalau traveling ke luar negeri itu identik dengan biaya mahal. Rasanya cuma orang yang punya tabungan besar yang bisa sering jalan-jalan.

Tapi setelah hampir tiga tahun hidup nomaden dan mengunjungi lebih dari 20 negara di Asia Tenggara, Eropa, dan Afrika Utara, cara pandangku berubah.

Aku sadar kalau traveling hemat bukan berarti harus mengurangi pengalaman. Justru, banyak pengalaman favoritku datang dari pilihan-pilihan sederhana. Jalan kaki keliling kota, makan di warung lokal, ngobrol dengan traveler lain di hostel, atau menikmati matahari terbenam tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun.

Selama perjalanan itu, aku tetap makan enak, sesekali ngopi di kafe, bahkan sesekali mengunjungi tempat wisata berbayar. Bedanya, aku jadi lebih sadar menentukan mana yang memang layak dibayar dan mana yang sebenarnya bisa dicari alternatifnya.

Kalau kamu ingin mulai traveling ke luar negeri tanpa menghabiskan tabungan, ini adalah kebiasaan yang benar-benar aku terapkan selama menjadi backpacker.

Venice, Italy
Venice in winter.

Traveling Hemat Bukan Berarti Menderita

Sebelum masuk ke tipsnya, ada satu hal yang menurutku penting.

Banyak orang mengira traveling hemat berarti harus mengorbankan kenyamanan. Makan mi instan setiap hari, tidur sembarangan, atau menghindari semua tempat wisata berbayar.

Buatku, itu bukan traveling hemat.

Traveling hemat adalah mengeluarkan uang untuk hal yang memang memberikan nilai buat kita, lalu menghemat di bagian yang sebenarnya nggak terlalu penting.

Misalnya, aku lebih memilih menghemat biaya bagasi supaya punya budget lebih buat mencoba makanan lokal. Atau memilih jalan kaki daripada naik taksi, bukan cuma karena lebih murah, tapi karena justru sering menemukan tempat-tempat menarik yang nggak ada di itinerary.

Jadi tujuan artikel ini bukan supaya kamu mengeluarkan uang sesedikit mungkin.

Tapi supaya budget yang kamu punya bisa memberikan pengalaman yang lebih banyak.

1. Aku Hampir Selalu Traveling dengan Carry-on

Kalau ada satu kebiasaan yang paling banyak menghemat budgetku selama traveling, jawabannya adalah carry-on only.

Sekarang Di setiap perjalanan, aku hanya membawa satu backpack. Awalnya memang terasa sulit karena aku terbiasa membawa banyak barang “untuk jaga-jaga”. Tapi setelah beberapa trip, aku sadar sebagian besar barang itu bahkan nggak pernah dipakai.

Selain lebih praktis, aku juga bisa menghemat biaya bagasi yang kadang hampir sama mahalnya dengan harga tiket pesawat, terutama saat naik maskapai berbiaya rendah.

Aku juga jadi lebih selektif memilih barang bawaan. Daripada membawa banyak outfit, aku lebih suka pakaian yang nyaman, mudah dipadukan, dan benar-benar akan dipakai.

Di beberapa penerbangan ke Eropa, kebiasaan ini pernah menghemat sekitar Rp1,5 juta hanya dari biaya bagasi.

Sekarang justru aku lebih menikmati traveling dengan barang seminimal mungkin. Nggak perlu menunggu koper di bandara, lebih mudah pindah-pindah kota, dan rasanya jauh lebih bebas.

Tips yang selalu aku lakukan:

  • Pilih pakaian yang mudah di-mix & match.
  • Bawa satu sepatu yang nyaman dipakai seharian.
  • Gunakan packing cube supaya tas tetap rapi.
  • Tinggalkan barang “kalau-kalau” yang sebenarnya jarang dipakai.

2. Aku Jalan Kaki Sebisa Mungkin

Dulu aku termasuk orang yang malas jalan kaki.

Mungkin karena di Indonesia, jalan kaki sering terasa kurang nyaman. Trotoarnya nggak selalu bagus, cuacanya panas, dan kadang jaraknya memang terlalu jauh.

Tapi sejak mulai sering traveling ke luar negeri, kebiasaan itu berubah.

Sekarang, kalau jaraknya masih sekitar 1–2 kilometer, aku hampir selalu memilih jalan kaki daripada naik transportasi umum.

Selain menghemat uang, aku justru merasa lebih mengenal sebuah kota dengan cara ini. Aku bisa berhenti kalau menemukan kafe kecil yang menarik, masuk ke toko lokal yang nggak sengaja aku lewati, atau sekadar menikmati suasana jalan yang mungkin nggak akan kulihat kalau naik bus atau metro.

Bahkan beberapa kali, aku berjalan lebih dari 20 kilometer dalam sehari tanpa benar-benar terasa melelahkan karena sepanjang perjalanan selalu ada hal baru yang bisa dilihat.

Kalau memang jaraknya terlalu jauh, baru aku naik transportasi umum.

Tips yang biasa aku lakukan:

  • Gunakan Google Maps untuk melihat estimasi waktu jalan kaki.
  • Pakai sepatu yang benar-benar nyaman.
  • Bawa botol minum, terutama saat musim panas.
  • Jangan takut belok ke jalan kecil. Kadang justru di situlah tempat-tempat menarik berada.

3. Aku Lebih Sering Makan di Restoran Lokal

Selama traveling, aku hampir nggak pernah sengaja mencari restoran mewah atau tempat yang viral di media sosial.

Justru beberapa makanan terenak yang pernah kucoba datang dari warung sederhana yang dipenuhi penduduk lokal.

Selain harganya jauh lebih terjangkau, rasanya juga sering kali lebih autentik.

Aku juga jadi bisa mencoba makanan khas yang mungkin nggak akan kutemukan di restoran yang lebih turis-oriented.

Sekarang, setiap kali mencari tempat makan, aku biasanya berjalan sedikit menjauh dari area wisata. Selisih beberapa ratus meter saja sering kali sudah membuat harga jauh lebih murah.

Yang biasanya aku lakukan:

  • Cari restoran yang ramai dikunjungi orang lokal.
  • Jangan langsung makan di depan objek wisata.
  • Coba street food kalau antreannya panjang dan terlihat bersih.
  • Sesekali cek Google Reviews, tapi tetap percaya insting juga.

4. Hostel Mengubah Cara Aku Traveling

Jujur, dulu aku sempat ragu menginap di hostel.

Aku membayangkan kamarnya berisik, kurang nyaman, dan privasinya minim.

Ternyata setelah mencobanya, justru hostel menjadi salah satu alasan kenapa aku sangat menikmati traveling.

Selain jauh lebih murah dibanding hotel, hostel juga mempertemukanku dengan banyak traveler dari berbagai negara. Beberapa bahkan masih berteman denganku sampai sekarang.

Kalau sedang ingin sendiri, aku tetap memilih private room. Tapi kalau ingin lebih menghemat budget, dormitory juga sudah lebih dari cukup.

Buatku, hostel bukan cuma tempat tidur. Kadang justru pengalaman paling berkesan datang dari obrolan di common room atau rekomendasi tempat makan dari traveler lain.

Tips memilih hostel:

  • Pilih rating minimal 8 di Booking.com atau Hostelworld.
  • Baca review terbaru, bukan hanya ratingnya.
  • Perhatikan lokasi dan akses transportasi.
  • Kalau membawa barang berharga, pilih hostel yang menyediakan locker.

5. Aku Nggak Selalu Masuk Tempat Wisata Berbayar

Dulu aku merasa harus masuk ke semua tempat wisata terkenal.

Kalau sudah jauh-jauh datang, rasanya sayang kalau cuma lihat dari luar.

Tapi semakin sering traveling, cara pikirku berubah.

Sekarang aku selalu bertanya ke diri sendiri, “Kalau nggak masuk, apakah aku benar-benar akan menyesal?”

Kalau jawabannya iya, aku beli tiket.

Kalau ternyata yang ingin kulihat hanya bangunannya atau pemandangannya, sering kali aku cukup menikmatinya dari luar.

Contohnya di Venice. Banyak orang naik gondola, tapi buatku melihat kanal sambil berjalan kaki sudah lebih dari cukup.

Begitu juga dengan beberapa museum. Aku tetap masuk kalau memang sesuai minatku, tapi aku nggak lagi merasa harus mengunjungi semuanya hanya karena terkenal.

Dengan cara ini, budget yang tadinya habis untuk satu atraksi bisa dipakai untuk pengalaman lain yang lebih aku nikmati, seperti mencoba makanan lokal atau menambah satu malam menginap.

6. Aku Sudah Berhenti Beli Oleh-Oleh

Ini mungkin salah satu kebiasaan yang paling berubah sejak aku mulai sering traveling.

Dulu aku selalu merasa harus membawa pulang sesuatu untuk keluarga atau teman.

Lama-lama aku sadar, biaya oleh-oleh ternyata bisa cukup besar. Belum lagi harus memikirkan ruang di backpack.

Sekarang aku lebih memilih membawa pulang foto, video, dan cerita.

Awalnya memang sempat merasa nggak enak. Tapi keluargaku akhirnya mengerti kalau perjalanan itu sendiri sudah menjadi pengalaman yang sangat berharga buatku.

Kalau memang ingin membeli sesuatu, biasanya aku memilih barang yang benar-benar punya fungsi atau kenangan khusus, bukan sekadar karena merasa wajib.

Jujur, keputusan ini membuat budget travelingku jauh lebih terkontrol.

7. Aku Selalu Bandingkan Harga Sebelum Booking Apa Pun

Salah satu kesalahan yang dulu sering aku lakukan adalah langsung booking begitu menemukan harga yang kelihatannya murah.

Sekarang aku hampir selalu meluangkan beberapa menit untuk membandingkan dulu.

Untuk tiket pesawat, aku biasanya mulai dari Google Flights atau Skyscanner.

Kalau mencari penginapan, aku membandingkan harga di Booking.com, Hostelworld, dan kadang Airbnb.

Hal yang sama juga aku lakukan untuk transportasi antarkota. Beberapa menit membandingkan harga sering kali bisa menghemat cukup banyak, apalagi kalau perjalanannya panjang.

Aku juga mulai memanfaatkan loyalty program dan promo yang memang sesuai kebutuhanku. Bukan karena ingin mengejar diskon, tapi karena memang lumayan kalau bisa menghemat tanpa usaha tambahan.

Menurutku, traveling hemat bukan soal selalu memilih yang paling murah.

Yang lebih penting adalah memastikan kita mendapatkan nilai terbaik dari uang yang kita keluarkan.

8. Free Walking Tour Selalu Jadi Pilihan Pertamaku

Kalau aku baru pertama kali datang ke sebuah kota, biasanya aku akan mencari tahu dulu apakah ada free walking tour.

Buatku, ini salah satu cara terbaik untuk mengenal sebuah kota di hari pertama.

Selain belajar sejarah dan budaya dari local guide, aku juga sering mendapatkan rekomendasi tempat makan, hidden spot, atau aktivitas yang justru nggak kutemukan di Google.

Biasanya di akhir tur, peserta memberikan tip secara sukarela. Jadi kamu tetap bisa menyesuaikan dengan budget masing-masing.

Kalau kebetulan nggak ada free walking tour, aku biasanya mencari festival lokal, night market, atau event gratis yang sedang berlangsung. Pengalaman seperti ini sering kali justru jadi bagian yang paling aku ingat dari sebuah perjalanan.

9. Selalu Bawa Botol Minum dan Cemilan

Ini mungkin terdengar sepele, tapi selama bertahun-tahun traveling, aku sadar pengeluaran kecil sering kali tanpa terasa menjadi besar.

Sekarang aku hampir selalu membawa botol minum sendiri supaya bisa isi ulang kalau memungkinkan.

Aku juga sering membeli cemilan di supermarket sebelum mulai jalan-jalan. Harganya jauh lebih murah dibanding membeli makanan ringan di area wisata atau bandara.

Bukan berarti aku nggak pernah jajan. Aku tetap menikmati kopi atau makanan lokal yang memang ingin kucoba. Tapi untuk hal-hal sederhana seperti air minum atau snack, aku lebih memilih menyiapkannya dari awal.

10. Selalu Sisakan Budget untuk Hal yang Nggak Direncanakan

Kalau ada satu pelajaran yang paling sering aku dapat selama traveling, mungkin ini.

Jangan habiskan seluruh budget sebelum perjalanan selesai.

Hampir setiap trip selalu ada pengeluaran yang nggak direncanakan. Bisa karena transportasi berubah, cuaca, bagasi tambahan, atau justru menemukan pengalaman yang rasanya sayang kalau dilewatkan.

Aku selalu menyisakan sedikit dana cadangan supaya nggak stres kalau ada perubahan rencana.

Berapa Budget Traveling Hemat ke Luar Negeri?

Sebenarnya nggak ada angka yang benar-benar pasti karena setiap negara punya biaya hidup yang berbeda.

Dari pengalamanku, budget sekitar Rp300.000–700.000 per hari sudah cukup nyaman di banyak negara Asia Tenggara kalau kamu menginap di hostel, makan di restoran lokal atau street food, dan menggunakan transportasi umum.

Kalau ke Eropa, tentu budgetnya lebih besar. Tapi dengan menerapkan kebiasaan-kebiasaan yang aku bahas di atas, aku tetap bisa menekan pengeluaran tanpa merasa kehilangan pengalaman.

Buatku, traveling hemat bukan berarti selalu mencari yang paling murah. Yang lebih penting adalah mengeluarkan uang untuk hal-hal yang memang membuat perjalanan lebih berkesan.

Kesalahan yang Dulu Sering Aku Lakukan

Kalau boleh mengulang perjalanan dari awal, ada beberapa hal yang mungkin akan kulakukan berbeda.

Aku dulu sering membawa terlalu banyak barang karena takut ada yang kurang. Padahal, sebagian besar tidak pernah dipakai.

Aku juga pernah merasa harus mengunjungi semua tempat wisata terkenal hanya karena takut ketinggalan. Akhirnya capek sendiri, budget habis, tapi justru kurang menikmati kotanya.

Dan yang paling sering terjadi, aku terlalu sibuk mengejar itinerary sampai lupa menikmati perjalanan itu sendiri.

Sekarang aku jauh lebih santai.

Aku memilih beberapa tempat yang benar-benar ingin dikunjungi, memberi waktu untuk berjalan tanpa tujuan, mencoba makanan lokal, dan membiarkan perjalanan berkembang dengan sendirinya.

Anehnya, justru perjalanan seperti itu yang paling aku ingat.

Ayutthaya, Thailand.

FAQ

Apakah traveling hemat berarti harus menginap di hostel?

Nggak juga. Hostel memang sering menjadi pilihan paling hemat, tapi sekarang banyak guesthouse, apartemen, atau hotel budget yang harganya juga cukup terjangkau. Pilih saja yang paling sesuai dengan gaya traveling dan budgetmu.

Berapa budget backpacker ke luar negeri?

Tergantung negaranya. Untuk banyak negara di Asia Tenggara, budget sekitar Rp300.000–700.000 per hari biasanya sudah cukup nyaman. Sementara untuk Eropa tentu membutuhkan budget yang lebih besar.

Apakah aman traveling hanya dengan carry-on?

Menurut pengalamanku, justru lebih praktis. Selama membawa barang seperlunya dan mengikuti aturan maskapai, carry-on membuat perjalanan jauh lebih mudah karena tidak perlu menunggu bagasi atau membawa koper besar ke mana-mana.

Apa cara paling mudah menghemat budget saat traveling?

Kalau harus memilih satu, aku akan bilang jalan kaki lebih banyak.

Selain menghemat transportasi, aku justru sering menemukan tempat-tempat menarik yang sebelumnya tidak masuk rencana.

Final Thoughts

Kalau ada satu hal yang aku pelajari selama hampir tiga tahun hidup nomaden, mungkin ini.

Traveling hemat bukan soal mengeluarkan uang sesedikit mungkin. Traveling hemat adalah tahu mana yang benar-benar penting buatmu.

Aku masih menikmati kopi di kafe kalau memang ingin mencobanya. Aku tetap membeli tiket masuk kalau menurutku pengalaman itu sepadan. Tapi di saat yang sama, aku juga nggak keberatan berjalan kaki beberapa kilometer atau menginap di hostel kalau itu membuat budgetku bisa bertahan lebih lama.

Karena pada akhirnya, yang paling aku ingat dari setiap perjalanan bukanlah berapa banyak uang yang aku keluarkan.

Melainkan orang-orang yang kutemui, makanan yang kucoba, dan cerita yang kubawa pulang.

Kalau kamu baru mulai traveling ke luar negeri, semoga artikel ini bisa membuktikan satu hal. Kamu nggak harus menunggu kaya dulu untuk melihat dunia. Mulailah dengan budget yang kamu punya, lalu sesuaikan perjalananmu seiring bertambahnya pengalaman.

Kalau kamu punya tips traveling hemat versi kamu sendiri, share di kolom komentar ya. Siapa tahu bisa membantu traveler lainnya juga.

Categories:

,

Tags: